BMH Bojonegoro

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Dermawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dermawan. Tampilkan semua postingan

Selalu ada Kebaikan di setiap Kejadian

Saya terlahir dengan nama Djarot Nugrahadi Susilowardoyo. Seorang bapak dari putri kami satu-satunya. Saya dulu hanyalah seorang guru yang telah mengabdi beberapa tahun di SMP Islam Bojonegoro. Hingga tahun 1999 saya mengundurkan diri dari tempat saya mengajar, karena kebutuhan keluarga dengan gaji yang saya terima tidak mencukupi, tentu saja dengan konsekuensi saya harus bekerja apa saja yang penting halal dan berkah bagi saya dan keluarga. Mulai dari berjualan kalender sampai gambar presiden saya jalani dari desa ke desa dari kota ke kota. Bahkan harus meninggalkan keluarga sampai beberapa hari.

Tidak jarang berbagai kendala dan ujian kerap saya terima, bagi saya itu sesuatu yang harus saya jalani. Dari berjualan kalender itu saya berusaha untuk menyisihkan sedikit penghasilan saya untuk anak yatim dan shodaqoh, karena itu tujuan dari hidup saya. Saya ingin memiliki sisa-sisa mimpi masa kecil saya yaitu selalu ingin menyenangkan orang lain. Saya ingin inves saham kebaikan kepada Yang Maha Sutradara. “ujarnya,”

Hingga malam ada seorang teman datang minta dicarikan pekerjaan. Karena saat itu dia harus menanggung dua anak yang masih kecil salah satu anaknya sudah beberapa hari sakit. Dengan berbekal tabungan untuk shodaqoh yang telah saya kumpulkan beberapa bulan, alhamdulillah saya bisa mnegobatkan anaknya hingga sembuh sekaligus bisa mencarikan pekerjaan kepadanya. Hingga sekarang dia telah memiliki rumah dan kendaraan sendiri. Saya seringkali menghadapi suatu persoalan yang membuat saya telah berusaha sekuat tenaga untuk bisa keluar dari rasa duka itu dengan segala cara akan tetapi saya selalu gagal dan terbentur jalan buntu, tiba-tiba terlintas ayat ini di benak saya. “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah dia pasti memberikan jalan keluar”.

Tahulah saya bahwa taqwa dan sabar adalah jalan keluar yang terbaik dari segala kegelisahan dan goncangan jiwa. Beberapa hari setelah saya menolong teman saya, Yang Kuasa menunjukkan kebesarannya di hadapan saya, saya di terima bekerja di lembaga pemberdayaan masyarakat dengan gaji yang berlipat. Puji syukur tidak henti-hentinya saya panjatkan atas kebesaran-Nya. Dan kini saya meyakini bahwa ada kebaikan dalam setiap kejadian walaupun tampaknya kejadian itu merugikan. Bahkan malah bersyukur untuk semua itu bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan.

Di ceritakan oleh
Djarot Nugrahadi Susilowardoyo
Jl. Basuki Rahmad Gg. Namlo

Abdul Qohar
www.abdulqohar.co.cc


Jika Anda Menyukai Artikel Blog ini, Masukan Alamat Email Anda Pada Kolom di Bawah, Maka Anda Akan Mendapatkan Kiriman Email Setiap Kali Ada Posting Baru. Terima Kasih Atas Partisipasinya:

JANGAN LUPA CEK EMAIL ANDA UNTUK VERIFIKASI BERLANGGANAN VIA EMAIL



Jangan Pernah Berhitung dengan Allah

Ibu Derni Irawati adalah tujuh bersaudara dan semua masih usia sekolah ketika ayahnya harus menghadap Allah SWT setelah berjuang melawan kangker usus besar. Saat itu ibunya sedang tidak bekerja karena harus merawat ayah selama 3 tahun sehingga terhitung cuti di luar tanggungan negara, dan berakibat harus melepas status PNS sebagai guru SLTP di Surabaya.
Alhamdulillah, ibu kami tidak terlalu lama larut dalam kesedihan. Beliau langsung bangkit dan mengambil keputusan untuk menghidupi ketujuh putranya dengan membuat kue-kue yang di titipkan di kantin-kantin sekolah, ujarnya.

Masih jelas dalam ingatan semua itu terjadi di pertengahan tahun 1974, kami semua dilibatkan untuk membantu beliu, jam 3 pagi ibu sudah bangun dan menghadapi kompor dengan berbagai jenis kue yang diolahnya. Kemudian menjelang maghrib ibu pulang, kemudian kami bersama-sama menghitung uang recehan dan dibungkus kertas sambil ditulis berapa jumlah uang didalamnya. Tidak terlalu banyak penghasilan ibu perharinya” katanya. Yang membuat kami tak habis pikir dengan penghasilan yang minim seperti itu beliau selalu menyisihkan uang khusus di satu amplop di setiap awal bulan, beliau bahwa itu adalah hak anak-anak yatim yang membutuhkan (bukannya kami juga anak-anak yatim?) pikirku dalah hati, beberapa saudara juga mengingatkan bahwa ibu tidak wajib mengeluarkan infaq atau shodaqoh, karena kami sendiri masih membutuhkan banyak biaya. Tapi jawabannya selalu sama dan melekat dalam ingatan saya, ”Jangan pernah berhitung dengan Allah, ndak nyampe hitungan kita dengan perhitunga-Nya”

Subhanallah, saat ini kelima putra-putrinya yang masih hidup dikaruniai kehidupan yang damai. Kami berhasil menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi negeri. Sementara ibu kami di usianya yang ke-76 alhamdulillah masih sehat bugar. Pesan beliau untuk tidak pernah berhitung dengan Allah saya coba terapkan dalam kehidupan, subhanallah, memang perhitungan manusia tidak pernah bisa menandingi perhitungan Allah. Ketika suami sedang menempuh pendidikan spesialis secara swadana (karena bukan pegawai negeri) dengan tiga orang anak, hitungan kami tampaknya tidak mungking meniyisihkan uang untuk infaq atau shodaqoh karena biaya hidup hampir sepenuhnya menjadi tanggunangan saya untuk sementara waktu. Tetapi ibu selalu mengingatkan untuk tetap berinfaq dan memikirkan anak-anak yatim. Dan diatas izin Allah, kami dapat melalui masa-masa penuh tantangan serta semakin yakin bahwa perhitungan Allah memang sering tidak masuk akal manusia.

Di ceritakan Oleh:
Derni Irawati
Jl. Dr. Sutomo Gg. Makam Sedeng

Abdul Qohar
www.abdulqohar.co.cc



Jika Anda Menyukai Artikel Blog ini, Masukan Alamat Email Anda Pada Kolom di Bawah, Maka Anda Akan Mendapatkan Kiriman Email Setiap Kali Ada Posting Baru. Terima Kasih Atas Partisipasinya:

JANGAN LUPA CEK EMAIL ANDA UNTUK VERIFIKASI BERLANGGANAN VIA EMAIL



Suara Hidayatullah Pendidikan Islam Jaringan Masyrakat Bertauhid Jaringan Masyrakat Bertauhid